Jumat, 21 November 2014

TUGAS PERKEMBANGAN SETIAP FASE



A.     Pengertian Tugas Perkembangan
Tugas-tugas perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosio psikologis manusia pada posisi yang harmonis dilingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Proses tersebut merupakan tugas-tugas perkembangnan fisik dan psikis yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh stiap individu. Pada jenjang kehidupan usia sekolah menengah (remaja), seorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks karena ia telah banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti proses mempelajari nilai dan norma pergaulan dengan teman sebaya, menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dll.
Robert havighurs menyatakan bahwa Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu pada rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menutaskan tugas berikutnya, sementar apabila gagal maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan- kesulitan dalam menentukan tugas-tugas berikutnya.
Tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap perilaku, atau keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh individu sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut tugas-tugas perkembangan ini sebagai social expetations.Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting  dan memperoleh pola perilaku  yang disetujui bagi berbagai  usia sepanjang rentang kehidupan.
B.  Sumber-Sumber Tugas Perkembangan
Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut.
1. Kematangan fisik, misalnya.
a.    Belajar berjalan karena kematangan otot kaki.
b.    Belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya  belajar membaca.
a.    Belajar membaca.
b.    Belajar menulis.
c.    Belajar berhitung.
d.    Belajaar berorganisasi
3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri.memilih pekerjaan.
a.    Memilih pekerjaan.
b.    Memilih teman hidup
4. Tuntutan norma agama.
a.    Taat beribadah kepada Allah.
b.    Berbuat baik kepada sesame manusia
C.  Tugas-tugas Perkembangan Pada Fase-fase Perkembangan
1.    Tugas-tugas Perkembangan Pada Masa Sekolah (6,0-12,0 tahun)
a.    Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
Melalui pertumbuhan fisik dan otak, anak belajar dan berlari semakin setabil, makin mantap dan cepat.Pada masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan ringan, seperti sepak bola, loncat tali, berenang dan sebagainya.
b.    Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
Hakikat tugas ini adalah (1) mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri dan kesehatan; (2) mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita) dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positip.
c.    Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
Yakni belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta teman-teman sebayanya.Pergaulan anak di sekolah atau teman sebayanya mungkin diwarnai perasaan senang karena teman sepermainannya suka mengganggu atau nakal.
d.    Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminya.
Apabila anak sudah masuk sekolah, perbedaan jenis kelamin akan semakin tampak. Dari segi permainannya seumpamanya akan tampak bahwa anak laki-laki tidak akan memperbolehkan anak perempuan mengikuti permainan yang khas laki-laki, seperti main kelereng, main bola dan layang-layang.
e.    Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
Salah satu sebab masa usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima pengajaran. Untuk dapat hidup dalam masyarakat yang berbudaya, paling sedikit anak harus tamat sekolah dasar (SD), karena dari sekolah dasar anak sudah memperoleh keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
f.      Belajar mengembangkan konsep sehari-hari.
Apabila kita sudah melihat sesuatu, mendengar, mengecap, mencium dan mengalami, tinggallah suatu ingatan pada kita.Ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu itu disebut konsep (tanggapan).Semakin bertambah pengetahuan, semakin bertambah pula konsep yang diperoleh.Tugas sekolah yaitu menanamkan konsep-konsep yang jelas dan benar.Konsep-konsep itu meliputi kaidah-kaidah atau ajaran agama, ilmu pengetahuan, adat istiadat dan sebagainya.
g.    Mengembangkan kata hati.
Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan norma-norma agama.Hal ini menyangkut penerimaaan dan penghargaan tehadap peraturan agama (moral) disertai dengan perasaan senang untuk melakukan atau tidak melakukannya.Tugas perkembangan ini berhubungan dengan masalah benar-salah, boleh-tidak boleh, seperti jujur itu baik, bohong itu buruk dan sebagainya.
h.    Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
Hakikat tugas ini adalah untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dalam arti dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan masa yang akan datang bebas dari pengaruh orangtua dan orang lain.
i.      Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan menghargai hak orang lain. Umpamanya, mengembangkan sikap tolong-menolong, sikap tenggang rasa, mau bekerjasama dengan orang lain, tolerasi terhadap pendapat orang lain dan menghargai hak orang lain.

2.    Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa remaja.Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.Masa remaja ditandai dengan berkembangnya sikap dependen kepada orangtua kearah independen, minat seksualitas dan kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral.
Apabila remaja gagal mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang, melakukan kriminalitas, atau menutup diri dari masyarakat.
Anita E. Woolfolk mengartikan identity, sebagai “suatu pengorganisasian dorongan-dorongan (drives), kemampuan-kemampuan (abilities), keyakinan-keyakinan (beliefs), dan pengalaman individu kedalam citra diri yang konsisten”.Upaya pengorganisasian ini melibatkan kemampuan untuk melibatkan pilihan, dan menganbil keputusan, terutama yang menyangkut pekerjaan, orientasi seksual, dan falsafah kehidupan. Kegagalan mengintegrasikan semua aspek ini, atau kesulitan untuk melakukan pilihan, maka remaja akan mengalami kerancuan peran.
Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja.Pikunas juga mengemukakann pendapatt William Kay, yaitu bahwa tugas perkembangan utama remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya.Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara unuversal. Selanjutnya William Kay, mengemukakan tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
a.    Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b.    Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai otoritas.
c.    Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
d.    Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e.    Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
f.      Memprkuat kemempuan memngendalikan diri atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup.
g.    Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri kekanak-kanakan.
Kemampuan seseorang untuk menemukan sumber-sumber dan cara-cara untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhannya, dan menuntaskan tugas-tugas perkembangannya, merupakan isyarat kunci bagi ketepatan perkembangannya.Upaya mengeksplorasi dan belajar adalah penting untuk bergerak ke arah self-realization.Periode remaja merupakan gerakan yang berkesinambungan dari masa anak ke masa dewasa.

D.  Peranan Sekolah dalam Mengembangkan Tugas-tugas Perkembangan Siswanya
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksnakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock (1986-322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak (siswa), baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai subsitusi keluarga dan guru subsitusi orangtua. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu (a) siswa harus hadir disekolah, (b) sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini seiring dengan masa perkembangan “konsep dirinya”, (c) anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah, (d) sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses, dan (e) sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.
1.    Pencapaian Tugas Perkembangan Melalui Kelompok Teman Sebaya
Teman sebaya mempunyai peranan penting bagi remaja.Remaja sering menempatkan teman sebaya dalam posisi proiritas apabila dibandingkan dengan orangtua, atau guru dalam menyatakan kesetiaanya. Dalam kelompok sebaya ini, remaja dapat menuntaskan tugas-tugas perkembangan sebagai berikut :
a.    Mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita.
b.    Mancapai peran sosial sebagai pria dan wanita.
Upaya sekolah (pimpinan dan guru) dalam rangka membantu siswa mencapai kedua tugas-tugas perkembangan tersebut, adalah :
a.    Memberikan pengajaran atau bimbingan tentang keterampilan-keterampilan sosial.
b.    Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan kelompok (ekstrakurikuler atau OSIS).
c.    Mengajar atau membimbing siswa tentang hidup demokratis atau berteman secara sehat.
d.    Bersama siswa mendiskusikan masalah peranan sosial pria atau wanita dalam masyarakat.
e.    Mendorong siswa untuk mau membaca literatur yang memuat peranan pria atau wanita.
f.      Menugaskan siswa untuk mengamati kehidupan sosial (menyangkut keterlibatan pria atau wanita dalam bidang pendidikan, pekerjaan kehidupan berkeluarga atau keterampilan masyarakat lainnya) sebagai bahan pembahasan dalam diskusi dengan guru.
2.    Mencapai Perkembangan Kemandirian Pribadi
Remaja merupakan periode perkembangan ke arah kemandirian. Untuk mencapai aspek perkembangan ini, remaja harus dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan: menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif; mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya; mencapai jaminan kemandirian ekonomi; memilih dan mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga; dan mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang perlu bagi kompetensi sebagai warga negara.
Dalam rangka membantu remaja mencapai tugas-tugas perkembangan di atas, maka sekolah dapat memfasilitasinya dengan upaya-upaya sebagi berikut:
a.    Melalui pelajaran biologi, kesehatan dan olahraga, atau layanan bimbingan, guru mata pelajaran atau guru pembimbing dapat memberikan penjelasan tentang pertumbuhan dan perubahan fisik remaja, terutama aspek keragamannya.
b.    Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatifnya terhadap postur tubuhnya, atau kondisi dirinya.
c.    Menyediakan fasilitas bagi kegiatan siswa dalam bidang olahraga, kesenian atau keterapilan-keterampilan lainnya.
d.    Menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi perkembangan emosional siswa secara matang.
e.    Memberikan informasi kepada siswa tentang cara menghadapi frustasi atau stres secara sehat.
f.      Mengembangkan sikap positif siswa terhadap dunia kerja.
g.    Membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri.
3.    Pengembangan Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Tugas perkembangan ini berrkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan, yang mempunyai tugas suci untuk beribadah kepada-Nya.Ibadah ini misalnya adalah untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan atau kenyamanan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Pada usia remaja, nilai-nilai keimanan dan ketakwaan harus sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Dalam rangka membantu remaja (siswa) dalam mengkokohkan atau memantapkan keimanan dan ketakwaannya, maka sekolah seyogianya melakukan upaya-upaya berikut:
a.    Pimpinan (kepala sekolah dan para wakilnya), guru-guru, dan personel sekolah lainnya harus sama-sama mempunyai kepedulian terhadap program pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama di sekolah, baik melalui proses belajar mengajar di kelas, pembiasaan dalam mengamalkan nilai-nilai agama dan bimbingan (pemaknaan hikmah hidup beragama/ beribadah, pemberian dorongan, tauladan baik dalam tutur kata, berperilaku, berpakaian maupun melaksanakan ibadah.
b.    Guru agama seyogyanya memiliki kepribadian yang mantap (akhlakul karimah), pemahaman dan keterampilan profesional, serta kemampuan dalam mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan bermakna bagi anak.
c.    Guru-guru menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya, sehingga siswa memiliki apresiasi yang positip terhadap nilai-nilai agama.
d.    Sekolah menyediakan sarana ibadah (masjid) sebagai laboratorium rohaniah yang cukup memadai, serta memfungsikannya secara maksimal.
e.    Menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler kerohaniahan, pesantren kilat, ceramah-ceramah keagamaan, atau diskusi keagamaan secara rutin.
f.      Bekerjasama dengan orangtua siswa dalam membimbing keimanan dan ketakwaan siswa.
E.   Akibat Penyelesaian/Tidak Selesainya Tugas Perkembangan
Apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menutaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan- kesulitan dalam menentukan tugas-tugas berikutnya.
Selain itu keberhassilan dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini akan mengantarkannya kedalam suatu kindisi penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namuan apabila gagal, maka dia akan mengalami ketidakbahagiaan atau kessulitan dalam kehidupannya dimasa dewasa, seperti ketidak bahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul  dalam dengan orang lain, bersifat kekanak-kanakan, dan melakukan dominasi secara sewenang-wenang.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar