A.
Pengertian Tugas Perkembangan
Tugas-tugas perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan
perilaku kehidupan sosio psikologis manusia pada posisi yang harmonis
dilingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Proses tersebut merupakan
tugas-tugas perkembangnan fisik dan psikis yang harus dipelajari, dijalani, dan
dikuasai oleh stiap individu. Pada jenjang kehidupan usia sekolah menengah
(remaja), seorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks karena ia telah
banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti proses mempelajari
nilai dan norma pergaulan dengan teman sebaya, menyesuaikan dengan ketentuan
yang berlaku dll.
Robert havighurs menyatakan bahwa Tugas
perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu pada rentang
kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan
membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menutaskan tugas berikutnya, sementar
apabila gagal maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang
bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan- kesulitan dalam
menentukan tugas-tugas berikutnya.
Tugas perkembangan ini berkaitan
dengan sikap perilaku, atau keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh individu
sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut
tugas-tugas perkembangan ini sebagai social
expetations.Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya
menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
B.
Sumber-Sumber Tugas Perkembangan
Munculnya
tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor
berikut.
1. Kematangan fisik, misalnya.
1. Kematangan fisik, misalnya.
a.
Belajar berjalan karena kematangan otot kaki.
b.
Belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda
pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2. Tuntutan
masyarakat secara kultural, misalnya
belajar membaca.
a.
Belajar
membaca.
b.
Belajar menulis.
c.
Belajar berhitung.
d.
Belajaar berorganisasi
3. Tuntutan
dari dorongan dan cita-cita individu sendiri.memilih pekerjaan.
a.
Memilih pekerjaan.
b.
Memilih teman hidup
4. Tuntutan norma
agama.
a.
Taat
beribadah kepada Allah.
b.
Berbuat baik kepada sesame manusia
C.
Tugas-tugas Perkembangan Pada Fase-fase Perkembangan
1.
Tugas-tugas Perkembangan Pada Masa Sekolah (6,0-12,0 tahun)
a.
Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
Melalui
pertumbuhan fisik dan otak, anak belajar dan berlari semakin setabil, makin
mantap dan cepat.Pada masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan
otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan
permainan-permainan ringan, seperti sepak bola, loncat tali, berenang dan
sebagainya.
b.
Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai
makhluk biologis.
Hakikat
tugas ini adalah (1) mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi
kebersihan, keselamatan diri dan kesehatan; (2) mengembangkan sikap positif
terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita) dan juga menerima dirinya (baik
rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positip.
c.
Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
Yakni
belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta
teman-teman sebayanya.Pergaulan anak di sekolah atau teman sebayanya mungkin
diwarnai perasaan senang karena teman sepermainannya suka mengganggu atau
nakal.
d.
Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminya.
Apabila
anak sudah masuk sekolah, perbedaan jenis kelamin akan semakin tampak. Dari
segi permainannya seumpamanya akan tampak bahwa anak laki-laki tidak akan
memperbolehkan anak perempuan mengikuti permainan yang khas laki-laki, seperti
main kelereng, main bola dan layang-layang.
e.
Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
Salah
satu sebab masa usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena pertumbuhan jasmani
dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima pengajaran. Untuk
dapat hidup dalam masyarakat yang berbudaya, paling sedikit anak harus tamat
sekolah dasar (SD), karena dari sekolah dasar anak sudah memperoleh
keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
f.
Belajar mengembangkan konsep sehari-hari.
Apabila
kita sudah melihat sesuatu, mendengar, mengecap, mencium dan mengalami,
tinggallah suatu ingatan pada kita.Ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu
itu disebut konsep (tanggapan).Semakin bertambah pengetahuan, semakin bertambah
pula konsep yang diperoleh.Tugas sekolah yaitu menanamkan konsep-konsep yang
jelas dan benar.Konsep-konsep itu meliputi kaidah-kaidah atau ajaran agama,
ilmu pengetahuan, adat istiadat dan sebagainya.
g.
Mengembangkan kata hati.
Hakikat
tugas ini ialah mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan
norma-norma agama.Hal ini menyangkut penerimaaan dan penghargaan tehadap
peraturan agama (moral) disertai dengan perasaan senang untuk melakukan atau
tidak melakukannya.Tugas perkembangan ini berhubungan dengan masalah
benar-salah, boleh-tidak boleh, seperti jujur itu baik, bohong itu buruk dan
sebagainya.
h.
Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
Hakikat
tugas ini adalah untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dalam arti
dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan masa yang akan datang
bebas dari pengaruh orangtua dan orang lain.
i.
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan
lembaga-lembaga.
Hakikat
tugas ini ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan menghargai hak
orang lain. Umpamanya, mengembangkan sikap tolong-menolong, sikap tenggang
rasa, mau bekerjasama dengan orang lain, tolerasi terhadap pendapat orang lain
dan menghargai hak orang lain.
2.
Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa
remaja.Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada
perkembangan masa dewasa yang sehat.Masa remaja ditandai dengan berkembangnya
sikap dependen kepada orangtua kearah independen, minat seksualitas dan
kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika,
dan isu-isu moral.
Apabila remaja gagal mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja
akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka
mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang, melakukan kriminalitas,
atau menutup diri dari masyarakat.
Anita E. Woolfolk mengartikan identity, sebagai “suatu
pengorganisasian dorongan-dorongan (drives), kemampuan-kemampuan (abilities),
keyakinan-keyakinan (beliefs), dan pengalaman individu kedalam citra
diri yang konsisten”.Upaya pengorganisasian ini melibatkan kemampuan untuk
melibatkan pilihan, dan menganbil keputusan, terutama yang menyangkut
pekerjaan, orientasi seksual, dan falsafah kehidupan. Kegagalan mengintegrasikan
semua aspek ini, atau kesulitan untuk melakukan pilihan, maka remaja akan
mengalami kerancuan peran.
Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity
formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama
bagi remaja.Pikunas juga mengemukakann pendapatt William Kay, yaitu bahwa tugas
perkembangan utama remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk
membimbing perilakunya.Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki
kode moral yang dapat diterima secara unuversal. Selanjutnya William Kay,
mengemukakan tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
a.
Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b.
Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas.
c.
Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar
bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun
kelompok.
d.
Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e.
Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuannya sendiri.
f.
Memprkuat kemempuan memngendalikan diri atas dasar skala nilai,
prinsip-prinsip atau falsafah hidup.
g.
Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri kekanak-kanakan.
Kemampuan seseorang untuk menemukan sumber-sumber dan cara-cara
untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhannya, dan menuntaskan tugas-tugas
perkembangannya, merupakan isyarat kunci bagi ketepatan perkembangannya.Upaya
mengeksplorasi dan belajar adalah penting untuk bergerak ke arah self-realization.Periode
remaja merupakan gerakan yang berkesinambungan dari masa anak ke masa dewasa.
D.
Peranan Sekolah dalam Mengembangkan Tugas-tugas Perkembangan
Siswanya
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik
melaksnakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu
siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek
moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak,
Hurlock (1986-322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi
perkembangan kepribadian anak (siswa), baik dalam cara berpikir, bersikap,
maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai subsitusi keluarga dan guru
subsitusi orangtua. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan peranan yang
berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu (a) siswa harus hadir
disekolah, (b) sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini seiring
dengan masa perkembangan “konsep dirinya”, (c) anak-anak banyak menghabiskan
waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah, (d) sekolah
memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses, dan (e) sekolah
memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan
kemampuannya secara realistik.
1.
Pencapaian Tugas Perkembangan Melalui Kelompok Teman Sebaya
Teman sebaya mempunyai peranan penting bagi remaja.Remaja sering
menempatkan teman sebaya dalam posisi proiritas apabila dibandingkan dengan
orangtua, atau guru dalam menyatakan kesetiaanya. Dalam kelompok sebaya ini,
remaja dapat menuntaskan tugas-tugas perkembangan sebagai berikut :
a.
Mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya, baik pria
maupun wanita.
b.
Mancapai peran sosial sebagai pria dan wanita.
Upaya sekolah (pimpinan dan guru) dalam rangka membantu siswa
mencapai kedua tugas-tugas perkembangan tersebut, adalah :
a.
Memberikan pengajaran atau bimbingan tentang
keterampilan-keterampilan sosial.
b.
Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk aktif dalam
kegiatan-kegiatan kelompok (ekstrakurikuler atau OSIS).
c.
Mengajar atau membimbing siswa tentang hidup demokratis atau
berteman secara sehat.
d.
Bersama siswa mendiskusikan masalah peranan sosial pria atau wanita
dalam masyarakat.
e.
Mendorong siswa untuk mau membaca literatur yang memuat peranan
pria atau wanita.
f.
Menugaskan siswa untuk mengamati kehidupan sosial (menyangkut
keterlibatan pria atau wanita dalam bidang pendidikan, pekerjaan kehidupan
berkeluarga atau keterampilan masyarakat lainnya) sebagai bahan pembahasan
dalam diskusi dengan guru.
2.
Mencapai Perkembangan Kemandirian Pribadi
Remaja merupakan periode perkembangan ke arah kemandirian. Untuk
mencapai aspek perkembangan ini, remaja harus dapat menyelesaikan tugas-tugas
perkembangan: menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif;
mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya;
mencapai jaminan kemandirian ekonomi; memilih dan mempersiapkan pernikahan dan
hidup berkeluarga; dan mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang
perlu bagi kompetensi sebagai warga negara.
Dalam rangka membantu remaja mencapai tugas-tugas perkembangan di
atas, maka sekolah dapat memfasilitasinya dengan upaya-upaya sebagi berikut:
a.
Melalui pelajaran biologi, kesehatan dan olahraga, atau layanan
bimbingan, guru mata pelajaran atau guru pembimbing dapat memberikan penjelasan
tentang pertumbuhan dan perubahan fisik remaja, terutama aspek keragamannya.
b.
Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatifnya terhadap postur
tubuhnya, atau kondisi dirinya.
c.
Menyediakan fasilitas bagi kegiatan siswa dalam bidang olahraga,
kesenian atau keterapilan-keterampilan lainnya.
d.
Menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi perkembangan
emosional siswa secara matang.
e.
Memberikan informasi kepada siswa tentang cara menghadapi frustasi
atau stres secara sehat.
f.
Mengembangkan sikap positif siswa terhadap dunia kerja.
g.
Membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri.
3.
Pengembangan Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Tugas perkembangan ini berrkaitan dengan hakikat manusia sebagai
makhluk Tuhan, yang mempunyai tugas suci untuk beribadah kepada-Nya.Ibadah ini
misalnya adalah untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan atau kenyamanan
hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Pada usia remaja, nilai-nilai keimanan
dan ketakwaan harus sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Dalam rangka membantu remaja (siswa) dalam mengkokohkan atau
memantapkan keimanan dan ketakwaannya, maka sekolah seyogianya melakukan
upaya-upaya berikut:
a.
Pimpinan (kepala sekolah dan para wakilnya), guru-guru, dan
personel sekolah lainnya harus sama-sama mempunyai kepedulian terhadap program
pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama di sekolah, baik melalui
proses belajar mengajar di kelas, pembiasaan dalam mengamalkan nilai-nilai
agama dan bimbingan (pemaknaan hikmah hidup beragama/ beribadah, pemberian
dorongan, tauladan baik dalam tutur kata, berperilaku, berpakaian maupun
melaksanakan ibadah.
b.
Guru agama seyogyanya memiliki kepribadian yang mantap (akhlakul
karimah), pemahaman dan keterampilan profesional, serta kemampuan dalam
mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan
bermakna bagi anak.
c.
Guru-guru menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran
yang diajarkannya, sehingga siswa memiliki apresiasi yang positip terhadap
nilai-nilai agama.
d.
Sekolah menyediakan sarana ibadah (masjid) sebagai laboratorium
rohaniah yang cukup memadai, serta memfungsikannya secara maksimal.
e.
Menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler kerohaniahan, pesantren
kilat, ceramah-ceramah keagamaan, atau diskusi keagamaan secara rutin.
f.
Bekerjasama dengan orangtua siswa dalam membimbing keimanan dan
ketakwaan siswa.
E.
Akibat Penyelesaian/Tidak Selesainya Tugas Perkembangan
Apabila tugas itu dapat berhasil
dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menutaskan tugas
berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada
diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan
kesulitan- kesulitan dalam menentukan tugas-tugas berikutnya.
Selain itu keberhassilan dalam
menyelesaikan tugas perkembangan ini akan mengantarkannya kedalam suatu kindisi
penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namuan apabila gagal,
maka dia akan mengalami ketidakbahagiaan atau kessulitan dalam kehidupannya
dimasa dewasa, seperti ketidak bahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu
bergaul dalam dengan orang lain,
bersifat kekanak-kanakan, dan melakukan dominasi secara sewenang-wenang.
0 komentar:
Posting Komentar